Bab 8. E-Commerce & Marketplace
Posisi urutan sebuah produk saat muncul di hasil pencarian atau kategori dalam platform marketplace, ditentukan algoritma berdasarkan relevansi, rating, dan performa penjualan.
Seperti urutan barang yang dipajang paling depan di sebuah rak toko, barang yang paling laris biasanya diletakkan di posisi paling mudah terlihat.
Marketplace Ranking di tiap platform punya algoritma dan bobot faktor berbeda-beda, sehingga strategi yang berhasil di satu marketplace belum tentu sama di marketplace lain.
Sebuah toko memperbaiki judul produk, kecepatan respons chat, dan mendorong pembeli memberi ulasan untuk menaikkan Marketplace Ranking.
Model bisnis di mana penjual menjual produk tanpa perlu menyimpan stok sendiri, karena setiap ada pesanan, barang langsung dikirim oleh pihak supplier atau produsen atas nama penjual.
Seperti perantara yang menerima pesanan katering, lalu meneruskan pesanan itu ke dapur yang sebenarnya memasak dan mengantarkan langsung.
Dropshipping membuat penjual kehilangan kendali penuh atas kualitas produk dan kecepatan pengiriman, karena keduanya bergantung sepenuhnya pada pihak supplier.
Seseorang membuka toko online yang menjual aksesoris HP tanpa memiliki stok barang sendiri.
Keseluruhan proses menyiapkan, mengemas, dan mengirimkan pesanan pelanggan sejak transaksi terjadi hingga barang sampai ke tangan pembeli.
Seperti proses di balik layar sebuah restoran setelah pesanan diterima, mulai dari memasak hingga mengantarkan makanan ke meja pelanggan.
Proses Fulfillment yang lambat atau berantakan bisa merusak pengalaman pelanggan meski produk yang dijual sebenarnya berkualitas baik.
Sebuah bisnis online menggunakan jasa gudang pihak ketiga (fulfillment center) yang menangani pengemasan dan pengiriman produk.
Persentase jumlah produk yang dikembalikan oleh pembeli dibandingkan dengan total produk yang terjual dalam periode tertentu.
Seperti mengukur berapa banyak dari sekian tamu undangan yang akhirnya membatalkan kedatangan setelah sempat mengonfirmasi hadir.
Return Rate yang tinggi seringkali menjadi sinyal adanya masalah lebih dalam, seperti deskripsi produk yang tidak akurat atau ukuran yang tidak sesuai ekspektasi.
Sebuah brand pakaian menyadari Return Rate produknya cukup tinggi karena masalah ukuran, sehingga menambahkan panduan ukuran yang lebih detail.
Fitur yang memungkinkan pengguna menyimpan produk yang diminati untuk dilihat atau dibeli di kemudian hari, tanpa harus langsung menambahkannya ke keranjang belanja.
Seperti menandai halaman buku yang ingin dibeli nanti dengan sobekan kertas kecil, belum tentu langsung dibeli sekarang.
Produk yang disimpan di Wishlist adalah sinyal minat yang kuat namun belum tentu berujung pembelian, bisa dimanfaatkan sebagai target Remarketing.
Seorang pengguna menyimpan beberapa produk fashion ke Wishlist, lalu kembali membelinya beberapa minggu kemudian setelah menerima notifikasi diskon.
Fitur yang memungkinkan pembeli menyelesaikan transaksi hanya dengan satu kali klik, karena informasi seperti alamat dan metode pembayaran sudah tersimpan sebelumnya.
Seperti pelanggan tetap di sebuah kedai kopi yang tinggal bilang "seperti biasa" tanpa perlu mengulang detail pesanan dari awal.
Fitur ini sangat efektif menurunkan hambatan pembelian, namun perlu diimbangi dengan sistem keamanan yang baik agar transaksi tidak mudah dilakukan tidak sengaja.
Seorang pengguna yang sudah pernah berbelanja bisa langsung membeli produk baru hanya dengan satu kali klik "Beli Sekarang".
Opsi yang memungkinkan pembeli menyelesaikan transaksi tanpa harus membuat akun terlebih dahulu di platform tersebut.
Seperti membeli di toko biasa yang tidak mengharuskan pembeli mendaftar menjadi member terlebih dahulu sebelum bisa berbelanja.
Mewajibkan pembuatan akun sebelum checkout sering menjadi salah satu penyebab Cart Abandonment, karena proses tambahan itu terasa merepotkan.
Sebuah toko online menyediakan opsi Guest Checkout bagi pengunjung yang terburu-buru.
Sistem teknologi yang memproses dan menghubungkan transaksi pembayaran online antara pembeli, penjual, dan bank atau penyedia layanan pembayaran.
Seperti mesin EDC di kasir toko fisik yang menjadi jembatan antara kartu pelanggan dan bank untuk memverifikasi pembayaran.
Payment Gateway yang menyediakan banyak pilihan metode pembayaran umumnya membantu menurunkan Cart Abandonment.
Sebuah website toko online mengintegrasikan Payment Gateway yang mendukung transfer bank, e-wallet, dan kartu kredit sekaligus.
Fitur di website atau aplikasi e-commerce yang menampung produk-produk yang ingin dibeli pengguna sebelum mereka menyelesaikan proses checkout.
Seperti keranjang belanja fisik yang dibawa berkeliling toko, barang dikumpulkan dulu, baru dibayar semuanya sekaligus di kasir.
Shopping Cart yang menampilkan ringkasan jelas sejak awal membantu mengurangi keraguan pembeli sebelum lanjut ke tahap pembayaran.
Seorang pembeli menambahkan tiga produk berbeda ke Shopping Cart sambil terus menjelajahi toko.
Aktivitas jual beli online yang melibatkan transaksi antar negara berbeda, di mana penjual dan pembeli berada di wilayah yang tidak sama.
Seperti berbelanja dari toko yang berada jauh di kota atau negara lain, tapi tetap bisa dilakukan dengan mudah dari rumah.
Cross-border E-commerce perlu memperhitungkan faktor tambahan seperti bea cukai, konversi mata uang, dan waktu pengiriman yang jauh lebih lama.
Seorang pembeli di Indonesia memesan produk kosmetik dari toko online yang berbasis di Korea Selatan.
Model bisnis di mana pelanggan membayar secara berkala untuk terus mendapatkan akses atau pengiriman produk maupun layanan secara berkelanjutan.
Seperti berlangganan koran yang diantar setiap pagi, pelanggan tidak perlu memesan ulang setiap hari.
Bisnis dengan Subscription Model sangat bergantung pada tingkat Churn Rate yang rendah, karena keberlanjutan pendapatan bergantung pada seberapa lama pelanggan bertahan.
Sebuah bisnis makanan sehat menawarkan paket langganan mingguan yang otomatis mengirim menu baru setiap Senin.